Kepada Malam, Kepada Masa Itu

8:57:00 PM

Sore itu, Leo terduduk sibuk dengan laptop kesayangannya di sebuah cafe sederhana di kota Depok. Sibuk dengan tugas-tugas kuliahnya, minggu ini adalah minggu pertama ia kuliah. Setelah diselang oleh liburan yang membuatnya lumayan jenuh. 

Seketika pandangannya terarah kepada sosok perempuan yang baru datang, di cafe itu. Sederhana, dengan hanya mengenakan blue jeans model masa kini dan dengan kaos reglan-nya. Sederhana namun terlihat mempesona. Kemudian perempuan itu duduk di sudutan cafe, merogoh tas dan mengeluarkan laptop, juga.

Leo memandang perempuan yang baru datang tadi, cantik dan menawan. Manis apalagi. Dengan rambut ala "kuncir kuda" membuat penampilannya semakin elegan. Kini Leo tak lagi fokus kepada tugasnya, kini Leo disibukan dengan menatap perempuan tadi tanpa berkedip. Dan pikirannya sudah tidak di cafe itu lagi. Jauh...

Buceng nanti subuh ngaji kan? Satu kalimat dari penggalan surat yang ditujukan untuk Leo malam itu. Hanya surat yang menjadi salah satu alat komunikasi di tempat itu. Tak ada sms, telepon apalagi handphone. Namun sepucuk surat pun mampu untuk menuntaskan rasa rindu. Maklum keadaan pesantren.

Sebenarnya saat itu Leo membawa handphone, meskipun sembunyi-sembunyi. Namun Leo lebih memilih berkomunikasi dengan surat. Sepertinya Leo kapok untuk menyerahkan handphone-nya kepada pengurus pesantren, handphone Leo sudah sering kena razia.

Dengan alas tidur seadanya, Leo tampak serius membalas surat yang diterima selepas pengajian malam itu. Senyum sendiri, memilih kata yang tepat dan perasaan senang tampaknya terpancar dari muka lusuh Leo. 
Selesai. Akhirnya setelah merasa cukup dengan tulisannya sebagai balasan surat tadi, Leo pun melipat dengan secantik mungkin. Dan segera bersiap untuk pengajian kedua. Setiap malamnya di pesantren itu ada dua kali pengajian, setelah berjamaah shalat maghrib sampai pukul delapan, dan dilanjutkan lagi setelah berjamaah shalat isya.

Seperti biasa, Leo memberikan balasan surat tadi setelah pengajian selesai. Yaitu ketika seluruh santri kelas keluar, Leo selalu punya kesempatan untuk memberikan maupun menerima sepucuk surat. Karena ketika keluar kelas santri laki-laki dan perempuan keluar dengan bersamaan. Suasana itu juga tak hanya digunakan oleh Leo tapi santri lain pun menggunakan suasana itu dengan serapih mungkin.

Hari-hari di pesantren memang monoton, bangun pagi - berjamaah - sekolah - mengaji - tidur, hanya itu. Tapi berbeda dengan Leo, yang tak suka dengan peraturan yang ada. Terkesan membangkang sampai dijuluki si pelanggar ulung. Bolos, keluar komplek pesantren dan keluyuran yang menurut santri lain tabu bagi Leo adalah sebuah rutinan.

Hingga pada saat pembagian raport tiba, seperti biasa rapot Leo dihiasi dengan nilai-nilai merah. Tapi kali ini lebih merah dari biasanya. Ganjaran yang setimpal memang, kadang dalam seminggu Leo masuk kelas hanya dua hari.

Buceng harus pindah ke Bandung
kenapa? terus aku disini gimana?
Ya, jaga diri aja baik-baik. Kita masih bisa kontekan lewat sms kok.
Tapi aku gak bisa. Gak akan kuat.
Yakin dong, kalo kita bisa. Buceng janji, kalo sekolah libur buceng bakal ke Tasik
Tapi aku tetep gak bisa, mending udahan aja deh.

Mau gak mau Leo harus pindah sekolah ke Bandung, karena tidak memungkinkan jika Leo terus di pesantren. Bukan Leo yang berkehendak, namun keadaan yang memaksa. Pelanggaran Leo sudah tidak bisa ditoleransi. Mau gak mau Leo harus meninggalkan pesantren tercintanya, terutama perempuan yang dicintainya. Meskipun terkadang Leo acuh tak acuh dan terkesan nggak peduli dengan hubungannya. Leo terlalu sibuk untuk keluyuran dan melanggar peraturan pesantren. Nampaknya Setia-perempuan yang dicintainya- pun tidak mampu untuk setia lagi. 



BRAAKK!!! Leo dikejutkan oleh mouse laptopnya yang jatuh. Leo melamun, kembali kepada masa-masa yang selalu dikenangnya itu. Terutama Setia. Yang kini sosoknya yangg begitu mirip sedang duduk sibuk di sudut cafe. Raut wajahnya membuat Leo mengingat kembali sosok Setia, wanita yang menyakiti sekaligus disakitinya pada masa itu.

Bagi Leo masa lalunya adalah masa depannya yang tertinggal. Penyesalan memang selalu datang di akhir, begitupun dengan penyesalan Leo yang telah menyia-nyiakan segala perhatian dan kasih sayang yang Setia berikan. Leo selalu berharap Setia-nya bisa kembali datang dalam hidupnya. Kembali berbagi suka dan duka, kembali bercerita-apa pun itu.
Namun penyesalan hanyalah penyesalan, Setia telah membatu dengan prinsipnya. Untuk tidak kembali kepada Leo.

Entah hebat atau bodoh, Leo selalu optimis bahwa Setia-nya akan mengisi kembali hari-harinya. 

You Might Also Like

4 komentar

  1. Cerpennya bagus, apalagi bercerita tentang kisah cinta yang hilang rasa kesetiaan, yg sebagiannya diakibatkan karena ketidakpatuhan pada peraturan yg ada. Benar, penyesalan memang selau datang diakhir :))

    Btw, kunjungan perdana nih, gue follow blog lo, jangan lupa follback :))
    Salam knal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih gan... Iya nanti ane maen ke blog ente :)

      Delete
  2. cerpen elu keren sob hahahaha gua juga pernah alamin kisah yang macam ginian hahahah

    salam kenal
    salam solid blogger BSO

    ReplyDelete
  3. Jadi elo banget intinya? :D

    Salam kenal juga
    Salam solid :)

    ReplyDelete

Terima kasih udah berkunjung ke blog gue yang gini-gini aja. Silahkan comment ya, kasih masukan juga ya biar kedepannya blog ini gak kebelakang.