Satu Warna Desa Sawarna

11:56:00 PM

Ada salah satu tempat impian yang pengen banget gue kunjungi, letaknya berada di daerah perbatasan antara Sukabumi dan Banten. Tepatnya Desa Sawarna. Pucuk dicinta babi pun tiba, kebetulan temen-temen di kampus juga pengen kesana. Yaudah, kita barengan aja berangkat kesana.

16 Januari 2013
Sekitar jam 7 pagi gue dan anak-anak janjian untuk kumpul di rumah kontrakan. Sambil menunggu yang lain kita membahas untuk menentukan titik check point. Tidak lama, ternyata sudah datang semua. Kita berangkat sembilan motor dengan jumlah 17 orang, berarti ada yang kebagian semotor sendiri, iya itu gue. Udah jangan disangkut pautin sama jomblo.
Dengan pantat yang akan duduk lebih lama dari biasanya, dan biji yang akan lebih terguncang dari biasanya. Breeeeng....kita pun berangcut. 

Tempat check point yang pertama kita tentukan di daerah Cibadak-Sukabumi, sebenernya perjalanan bisa ditempuh selama satu sampai dua jam. Karena kita berangkat dari daerah Sawangan-Depok. Namun perjalanan terhambat dikarenakan terlalu banyak berhenti dan menunggu temen-temen yang dibelakang. Iya, bawa motornya keseringan lihat spion sih, jadi perjalanannya gak fokus. Coba aja, kalo gak sering lihat spion mungkin semuanya sampai tepat waktu. Memang sih gunanya spion itu untuk melihat ke belakang yang berfungsi melihat kendaraan yang ada di belakang kita. Sama kayak mantan, kadang kita melihat mantan sebagai bahan pelajaran agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Tapi gak tau kenapa, banyak orang yang kejebak dalam kenangan mantan. Astaghfirullah, kok jadi mantan *brb wudhu dulu*

Alhasil, jam 10 kita masih berada di daerah Gombong. Padahal udah ada gue yang bertugas sebagai penyapu. Bukan, bukan penyapu masa lalu. Tapi posisi gue berada paling belakang, tugasnya untuk nge-check kalau ada motor yang bermasalah. Atau gak ada yang gak tau jalan, padahal gue sendiri gak tau jalan.

Sekitar jam 11 kita udah sampai di SPBU di daerah Cibadak. Kita sepakat untuk istirahat sekaligus nunggu waktu untuk sholat dzuhur. Selesai sholat kita melanjutkan perjalanan sekaligus mengisi kembali bahan bakar bagi yang sudah habis. Perjalanan dilanjut untuk menuju check point yang kedua, di Palabuhan Ratu.

Nah, ternyata dari Palabuhan Ratu untuk mencapai Desa Sawarna masih dibutuhkan waktu perjalanan selama dua sampai tiga jam. Dengan jalan yang berkelok, tanjakan yang edan dan turunan yang badai. Jalanannya memang ajippp banget deh. Perjalanan tetep lanjut melewati perbatasan Sukabumi-Banten.

Sekitar jam 3 kita sampai di Desa Sawarna, Subhanalloh deh pemandangannya. Gak bakal cukup kalo diucapkan dengan kata-kata. Yang menarik sih pas waktu mau masuk daerah pantainya. Kita harus melewati jembatan gantung. Gue harus bersyukur, bukan hanya gue yang digantung oleh kenangan ternyata masih ada jembatan yang digantung. Pas ngelewatin jembatan gantung itu deg-deg-ser deh. Kayak pedekate, seneng tapi disisi lain ada takutnya juga.

Sesampainya di seberang kita mencari homestay, tenang aja banyak kok pilihannya. Ada yang terletak sebelum jembatan gantung dan ada juga yang terletak setelah jembatan gantung. Tapi gue saranin mending milih homestay yang sesudah jembatan gantung. Selain tempatnya lebih enak, juga kita tidak terlalu jauh ke pantai. Dengan tarif semalam Rp.120ribu/orang kita sudah mendapat fasilitas yang yahuddd, itu sudah termasuk makan tiga kali. Murah lah jika dibanding dengan paket BB atau Smartphone selama dua bulan. Hahaha

Ada juga pilihan lain, kalau datangnya banyakan mending nyarinya rumah aja. Itu tarifnya Rp. 500ribu/malam, tapi belum termasuk makan. Tapi tergantung nawar juga sih, untung-untungan. Kalo gue kemaren, dapetnya dua kamar. Satu kamarnya 250/malam, tapi belom termasuk makan dan gak diitung per orang.

Mainstream-nya ke pantai belom afdhol kalau gak berburu sunset, maka gue pun bergegas menuju pantai pasir putih. Pasir Putih merupakan pantai yang deket dari homestay dan sunsetnya juga bagus. Mereka sih yang berangkatnya pasangan enak, bisa foto-foto dengan backround sunset berdua. Nah gue? Wassalam. Rasanya terlalu sayang jika harus meratapi kejombloan gue ditengah sunset yang menguning indah. Biarpun jomblo, yang penting tetep foto.

Senja telah berpulang ke peraduannya, pertanda hari akan berganti. Sedangkan kita balik ke homestay untuk mandi dan bersiap makan malam. Dengan menu anak kosan, indomie telor, makan malam terasa berkesan dikarenakan kita makan bareng-bareng unyu gitu.

Selepas makan, kita bersiap istirahat. Udah cape juga sih setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih 8 jam. Biar besoknya bisa bangun pagi, untuk berburu sunrise. Hehehe


Kamis, 17 Januari 2013 
Emang, manusia hanya bisa merencankan dan Alloh adalah penentu segalanya. Awalnya gue bareng temen yang lain mau berburu sunrise, biar suasana pantainya kerasa gitu. Soalnya gimana ya, kalo ke pantai tanpa berburu sunrise itu bagai taman tak berbunga. Dan......gue pun kesiangan. Dari rencana bangun jam 4 pagi, alhamdulillah gue bangun jam 4.30 WIS (Waktu Bagian Sial). Karenaspot untuk melihat sunrise-nya itu lumayan jauh, jadi harus pagi-pagi berangkatnya.  Mau gak mau gue harus mengubur dalam-dalam keinginan untuk berburu sunrise. Lagian cuacanya juga mendung sendu, gitu. Padahal gue bareng yang lain udah nyewa guide buat memuaskan kita........dalam berwisata. Dikarenakan kita masih awam dengan daerah ini. Alhamdulillah kita jam 6 pagi masih di homestay, awesome sekali. Sudah jatuh tertimpa mantan, hujan pun turun. Kemudian kebiasaan orang Indonesia pun terlihat, ngaret, om. Daripada bete karena gagal berburu sunrise ditambah dengan hujan, akhirnya gue mutusin untuk ngopi-ngopi tampan dulu. Suasana pantai coyy, mayan. Selain kopi, ditemani juga dengan gitar. Lagu-lagu galau pun terlantun dengan menyayat hati. Sampai akhirnya hujan mulai reda.

Rencananya, di hari kedua gue bareng yang lainnya mau full jalan-jalan. Setelah sarapan akhirnya kita mulai jalan. Tujuan pertama yaitu pantai Tanjung Layar. Katanya, kalau ke Desa Sawarna nggak ke pantai Tanjung Layar gak afdhol, seperti pacaran tanpa berantem, gitu. Akses ke Tanjung Layar masih relatif mudah, bisa dilalui dengan sepeda motor. 

Dan, subhanalloh sekali. Pantainya indah, sepi, sedikit angin laut yang bertiup dan tidak ada pengunjung lain. Hanya kita. Hamparan pasir putih dihiasi dengan tebing karang yang kokoh, selain itu terdapat batu yang menjulang tinggi menyerupai layar. Itu sebabnya kenapa pantai ini dinamai pantai Tanjung Layar.
Sudah di duga, para banci kamera celingukan mencari spot yang pas untuk foto-foto. Gak dipungkiri juga sih, pantainya memang indah badai. Yang pacaran sih enak, bisa foto-foto berdua dengan pose yang romantis. Itung-itung latihan foto prewed gitu. Lah, gue? harus meluk karang? nyium karang? GUE JUGA BISA LIAT!!!!

Sudahlah, lupakan.
Setelah puas pasangan-pasangan freak tadi ngebuat gue iri, perjalanan pun lanjut ke tujuan selanjutnya. Pantai Lagun Pari (kalau kata bule nyebutnya Laguna Pari, ampir sama sih). Jaraknya lumayan jauh dari pantai Tanjung Layar, apalagi hanya disusuri dengan jalan kaki. Tapi nggak apa-apa, itung-itung olahraga. 
Sekitar satu jam kita jalan kaki, akhirnya sampai juga di pantai Lagun Pari. Kawasan pantainya hampir sama dengan di pantai Tanjung Layar, namun yang membedakan adalah di pantai ini jarang sekali karang. Lebih didominasi oleh pasir putih yang terhampar luas. Juga, di pantai ini kita bisa berenang. Karena itu tadi, di pantai ini jarang ada karang.
Tanpa menunggu lama, kita langsung membuka baju, buka mata, buka pikiran, buka hati dan byuuuuur. Gue juga berenang, tapi bentaran doang. Bukan! Bukan iri melihat pasangan yang berenang, gue sih lebih enak menikmati suasana pantainya aja. Music on, Volume up and forget the world.

Nggak terasa, setengah hari sudah kita melewatkan waktu. Yang berenang pada udahan, bersih bersih kemudian bersiap pulang. Tadinya mau dilanjut jalan ke pantai Karang Taraje, berhubung sebagian ada yang udah kecapean maka kita putuskan untuk balik ke tempat parkir motor tadi, Tanjung Layar. 

Sekitar jam 2, kita sudah sampai di homestay. Dan bersiap menuju tujuan selanjutnya, yaitu Goa Lalay. Sambil istirahat ada yang maen gitar di pinggir pantai ada yang sekedar ngobrol. Gue sih lebih memilih berjemur, ya itung-itung ngeringin luka hati yang masih basah. Mayan~
Mungkin terlalu asik beristirahat, nggak terasa waktu udah menunjukan jam setengah empat sore. Sebelum terlambat kita langsung bergegas dengan naik sepeda motor menuju Goa Lalay. Karena kita juga gak mau ketinggalan sunset, maka kita putuskan untuk sebentar aja di Goa Lalaynya.
Seperti kebanyakan goa lainnya, Goa Lalay juga dihiasi dengan lapisan-lapisan stalaktit dan stalagmit yang indah. Banyak dekorasi-dekorasi alami nan indah di dalamnya. Disebut Goa Lalay karena di dalam goa ini terdapat banyak lalay (semacam kelelawar namun dengan bentuk yang kecil).
Sebelum memasuki goa ini, kita harus melewati dulu jembatan gantung, pokoknya adrenalin kita diuji banget deh.

Waktu sudah menunjukan jam 5, kita bergegas pulang untuk menyaksikan cahaya senja di Pasir Putih, beruntung masih kebagian. 

Gue foto-foto bentar, abis itu gue duduk sambil menemani sang surya pulang ke peraduannya. DUARRR!!! Ingatan tentang mantan pun datang.

Untuk semua kenangan, untuk semua impian tentangmu. Kini kutenggelamkan jauh di dasar samudera kecewa ini. Aku tanpamu bukan lagi debu. Kini, aku tanpamu adalah kenangan. Indah, tak terlupakan. Namun harus kutinggalkan. Seiring sang surya perlahan tenggelam, kutitipkan semua kenangan bersamanya.

Sawarna, 17 Januari 2013

Iya, terkadang dalam suasana tertentu kita diingatkan pada kenangan. Entah apa pun itu kenangannya. Namun yang gue sadari sejak saat itu, bahwasannya hidup ini bukan melulu tentang kenangan dan masa lalu. Tapi tentang bagaimana kita berani melangkah ke depan dan memulai lembaran baru. Kini seiring tenggelamnya sang mentari, kutitipkan segala kenanganku bersamanya.
Ah, gampang ngomong doang mah, yang susah itu mengamalkannya. Hahaha


18 Januari 2013
Sesuatu yang asik dan enak itu emang suka gak kerasa. Tau-tau udah harus balik aja, padahal masih betah. Belum dapet cewek sih. Rasanya berat banget ninggalin tempat ini, kayaknya terlalu mudah mata ini jatuh cinta dengan pemandangan di dalamnya. Sudah menjadi sunnatulloh, ada pertemuan ada perpisahan.
Thanks banget buat Desa Sawarna atas semua panoramanya. Kapan-kapan gue kesini lagi deh, bawa cewek dong pastinya. Hahahaha

Terakhir, satu kata buat Sawarna "Edan Euy"

Daaaaaah :)

Semoga nggak enpi :D











Jangan mikir macem-macem!














You Might Also Like

1 komentar

  1. Heh. Tetelan Sapi! Ini kenapa semua nyambung ke mantan?!!
    Emang sih, ditinggal kawin mantan itu rasanya sakit. Apalagi kalo dulu belum sempet grepe. Emang gitu sih.

    ReplyDelete

Terima kasih udah berkunjung ke blog gue yang gini-gini aja. Silahkan comment ya, kasih masukan juga ya biar kedepannya blog ini gak kebelakang.