Love

7:38:00 PM

Dalam setiap gerak-gerik terkandung pelajaran. Kadang menyentuh dan kadang terlewat begitu saja. Tinggal bagaimana lo menggunakan sudut pandang aja, semua aspek dalam hidup lo pasti mengandung edukasi. Karena bagi gue, edukasi tidak melulu tentang bangku sekolah, kuliah dan lembaga formal lainnya. Kadang dalam suatu kejadian yang nggak lo duga, lo bisa ngambil suatu pelajaran. Iya, bukan hanya kenangan yang bisa datang secara tiba-tiba, tapi juga pelajaran atau hikmah dari suatu peristiwa.
Sepele, sih. Beberapa hari yang lalu entah kenapa badan gue terasa panas dingin, labil, emang. Dan semakin malem badan gue semakin menjadi, tentunya menjadi bau. Bayangkan aja, udah dua hari gue gak berani mandi. Gue berusaha untuk mengobati diri gue sendiri dengan obat yang alakadarnya, seperti superpel, harpic, cream ekonomi dan sebagainya. Alhasil badan gue semakin  meriang. Keesokan harinya gue putuskan untuk pulang ke Bandung, mungkin badan ini butuh istirahat dari padatnya kesibukan nganggur.
Something yang amazing terjadi dalam perjalanan ke Bandung. Diantaranya: dari mulai bayar tiket bis, terus ngasih duit ke pengamen. Iya, itu gak penting. Dan sesuatu yang bener-bener menyentuh hati Mang Maman terjadi ketika gue turun dari bis dan naik angkot.
Awalnya gue gak ngerasain sesuatu yang berbeda dalam angkot tersebut. Hanya nampak di hadapan gue seorang suami-istri yang duduk berdekatan. Okey, gue gak peduli, secara seorang jomblo emang sensitif kalau melihat pemandangan kayak gitu. Namun, gue melihat sesuatu yang lumayan mengejutkan. Bapak itu salto dan bilang "wow", pemirsa! Bukan, bukan seperti itu, lebay. Di balik jaket bapak tersebut gue mpelihat ada selang infus yang melingkar di tangannya. Kurang jelas, sih, tapi gue yakin kalau bapak tersebut sedang sakit, sama kayak gue. Terlihat dari raut wajahnya yang pucat dan kulitnya yang sudah mengkerut. Bukan habis dimakan usia, tapi terkikis oleh penyakit yang dideritanya. Sesaat gue mengusap dada, ya ampun...
Tidak hanya bapak tadi yang gue perhatikan. Disebelahnya ada seorang wanita berkulit putih, cantik, berkacamata dan berkerudung. Dari raut wajahnya terpancar kesabaran yang tak terhingga. Selalu memberikan bahunya dikala sang suami membutuhkan, selalu menyemangati dikala sang suami mulai kehilangan semangat. Tak lama, sang suami pun nampak lelah dengan suasana di dalam angkot. Gerah, macet dan pengap. Lalu ia menyandarkan kepalanya di bahu istrinya, sang istri menerima dengan ikhlas. Seakan takut berpisah dengan sang suami.
Gue membayangkan, betapa beruntungnya bapak itu. Mendapatkan seorang pendamping hidup yang setia dan selalu ada untuk suami tercinta. Ah, rasanya gue jadi pengen cepet-cepet berjilbab. Karena entah kenapa gue selalu luluh dengan wanita berjilbab. Sulit diungkapkan dengan kata ,deh.
Sekilas, si bapak tadi tersenyum kepada istrinya. Entah kenapa. Yang pasti menurut gue si bapak itu dalam hatinya bangga bisa mendapatkan seorang istri seperti itu. Gue sirik. Lalu gue perhatikan terus si bapak dan istrinya itu. Dan tanpa sadar rumah gue kelewat. Astaghfirullah...
Kang...kiri, kang. Kelewat euy :)))

You Might Also Like

4 komentar

  1. Gue lagi serius baca, anjis ujung-ujungnya ngakak lepas. Bang kiri bang bang, keliwatan. :))

    Iya, kalau ada yang make jilbab pasti hati luluh, gimana dengan Dorce, Dot? :))

    ReplyDelete
  2. Hahahaha
    Terlalu asik mengamati dan akhirnya kelewatan -____-
    Mungkin begitulah kehidupan jomb**, terkadang terlalu asik mengamati hal2 yang bikin envy, aaaaah :3 *curhat*

    Mampir yuk mampir bang dot :)

    ReplyDelete
  3. untung pacar gua berjilbab, tapi namanya bambang

    ReplyDelete
  4. haha,,dasar saking asyiknya liatin pasangan suami istri dalam angot sampai kelewat gitu rumahnya

    ReplyDelete

Terima kasih udah berkunjung ke blog gue yang gini-gini aja. Silahkan comment ya, kasih masukan juga ya biar kedepannya blog ini gak kebelakang.